BLOGONOMICS

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Farid Gaban, Wartawan Tempo

Banyak hal yang berlangsung dan kita lakukan di internet tak lebih dari cermin kehidupan nyata. E-mail adalah jasa pos yang lebih cepat. Koran online adalah yang kita baca di layar komputer sambil menyeruput kopi di pagi hari. Bahkan pencuri kartu kredit di internet hanya sedikit lebih canggih dari copet di Terminal Blok-M.

Tapi, blogging mungkin adalah satu-satunya kegiatan internet yang khas, yang sulit kita temukan padanannya di luar komputer dan modem.

Diperkenalkan sejak 1997, blog atau weblog adalah spesies baru yang tumbuh cepat di alam maya. Istilah ini merujuk pada situs-situs pribadi yang dibangun di internet, sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, mengungkapkan unek-unek dan gagasan serta berinteraksi dalam komunitas-komunitas khusus. Memadukan komputer-plus-modem serta kebiasaan lama menulis buku harian, penampilan sebuah blog diperbaharui secara rutin, ditampilkan secara kronologis dan siap diakses serta dikomentari siapa saja, kapan saja.

Sampai akhir tahun ini diperkirakan ada sekitar satu juta blog di seantero internet. Dan jumlahnya terus tumbuh secara eksponensial–termasuk di Indonesia.

Popularitas blog tumbuh tak hanya karena hadirnya teknologi yang memudahkan setiap orang untuk menulis dan menayangkannya seketika di internet, tapi juga karena sifatnya yang revolusioner. Blogging memadukan sekaligus kebiasaan menulis kolom di koran untuk memaparkan gagasan dan memperdebatkannya seperti dalam acara bincang radio yang bersifat interaktif serta tanpa pandang bulu.

Tak heran jika seorang penulis mengatakan blogging sebagai model baru dalam jurnalisme, komunikasi dan pembelajaran yang interaktif lagi demokratis. Setiap orang bisa menjadi jurnalis sekaligus pembaca, sementara gagasan dievaluasi berdasarkan merit dan bukan siapa yang mengatakan. Setiap orang praktis kini bisa menjadi wartawan, penulis, penerbit dan sekaligus distributor berita.

Tapi, keindahan blog tidak hanya terletak pada keragaman ekspresi dan gagasan pemiliknya. Kekuatan lain terletak pada kemampuannya membangun komunitas. Para pemilik blog umumnya tergabung dalam kerumunan sesuai minat dan orientasi. Satu blogger biasanya akan membuat link kepada blog milik orang lain, membentuk sebuah jaring-jaring gagasan dan pengetahuan yang kaya. Orang-orang dengan minat dan perhatian yang sama–dari pengumpul keramik antik hingga pakar bioteknologi–bisa membentuk komunitas kecil, menulis, mengumpulkan bahan di internet dan memperdebatkannya.

Mungkin karena itulah kini tengah terjadi ledakan hebat dalam jumlah blog di internet. Dan karena itu pula, blogging tengah bergeser dari kegiatan amatir menjadi lebih profesional, dengan uang sebagai iming-imingnya. Belakangan ini beberapa pakar mulai bicara tentang blogonomics–nilai ekonomi yang dibangkitkan oleh medium baru ini.

Makin bagus sebuah blog, artinya makin bermutu dan beragam isinya, makin mungkin dia menjadi terkenal melalui jalur pemasaran yang di dunia nyata kita kenal sebagai penularan dari-mulut-ke-mulut. Dan dengan begitu, seorang blogger yang populer ibarat duduk di puncak rantai multi-level-marketing yang menguntungkan.

Tak hanya itu. Kemampuan blogging membangun komunitas juga memiliki makna ekonomi lain: mendefinisikan pasar yang segmented dan terarah–kata-kata kunci yang penting dalam iklan. Sekarang ini sudah muncul beberapa jasa seperti blog-ads, atau pemasangan iklan khusus di lingkungan blogger.

Kemampuan membentuk komunitas juga penting untuk membangun “brand loyalty”. Beberapa perusahaan besar kini mulai pula memanfaatkan blogging. Macromedia, perusahaan software pembuat Flash dan ShockWave, belum lama ini meluncurkan blog khusus untuk berinteraksi dengan pengguna. Tak hanya itu membantu pengguna memanfaatkan produk tapi juga menampung kritik mereka terhadap produknya–sebuah upaya umpan-balik untuk menyempurnakannya.

Masih terlalu dini untuk menilai seberapa besar ceruk blogonomics. Namun, cepat atau lambat medium baru ini tengah pula dilirik kalangan wiraswastawan di internet.

Sumber : Koran Tempo Minggu, 15 Desember 2002 rubrik E-Culture

POLITISASI MASJID

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

Politisasi masjid tak hanya terjadi di kota-kota. Ada yang bilang pertumbuhan masjid seiring pertumbuhan korupsi.

Masjid adalah sebuah rendezvous yang dikangeni sekaligus suci. Di kampung-kampung masjid menjadi tempat pertemuan yang lebih sering dibanding balai desa. Jika di balai desa orang bertemu untuk suatu kerja gotong royong, pendeknya ada keperluan yang menyangkut hajat hidup orang desa, masjid menjadi tempat pertemuan apa saja. Saat magrib tiba, orang-orang tua datang ke masjid untuk salat, anak-anak ke masjid untuk mengaji dan sedikit main-main.

Continue reading “POLITISASI MASJID”

AA GYM

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

 

 

KH Abdullah Gymnastiar atau populer disapa Aa Gym makin mempesona. Setidaknya itu terjadi saat ia menghadiri peresmian Islamic Center Kramat Tunggak, Jakarta Utara, Selasa (4/2).

Pesona kyai muda asal Kampung Geger Kalong Bandung itu membuat ribuan massa rela berdesakan agar bisa dekat ke Aa Gym. Ibu-ibu dan anak-anak gadis berteriak histeris dan mengikuti ke mana pun si Aa pergi.

Saat Aa akan berkeliling meninjau kompleks Islamic Center mendampingi Gubernur Jakarta Sutiyoso, ribuan pengagum itu berdesak-desakan untuk mendekat ke tempat Aa, hingga meruntuhkan beberapa anjungan counter produk-produk Islami. Si Aa pun bukannya nyaman meninjau kompleks gedung, ia sibuk meladeni para pengagumnya untuk berjabat tangan. Sesekali Aa melempar senyum dan melambaikan tangan yang disambut remaja-remaja dengan histeria.

Yang repot, tentu saja, sepasukan pengamanan yang berusaha menjaga Aa Gym dari serbuan massa itu. Tapi, dasar Aa, bukannya menghindar, ia malah meladeni jabat dan cium tangan itu. Hingga beberapa kali Aa harus berhenti berjalan karena terkepung ribuan orang itu. Saat Aa keluar kompleks untuk menuju mobilnya, massa yang tadinya duduk di aula sontak berdiri dan ikut merubung Aa. Mereka menguntit hingga Aa masuk ke dalam mobilnya. Walhasil, Sutiyoso pun sepi dirubung warganya dan melenggang menuju mobilnya.

Beberapa ibu-ibu yang tak sempat melihat Aa dari dekat dan menjabat tangannya terlihat menyesal. Seperti tiga orang ibu dari Kebayoran Baru itu. Mereka sampai tak sadar, masuknya Aa ke mobil karena acara telah usai. “Aa Gym nanti balik lagi enggak, Mas,” tanya salah seorang dari mereka. Waktu saya jawab acara telah usai selama-lamanya, tiga ibu itu saling pandang. “Yah, padahal kita-kita mau foto-foto dulu,” kata si ibu yang lain. Mereka pun pulang tanpa membawa pose dengan Aa Gym untuk ditunjukkan ke para tetangga.

TAKSI BLUE(S)

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

 

Malam belum juga beranjak larut ketika seorang perempuan 25-an melambaikan tangan di depan Apartemen Brawijaya, Jakarta Selatan, untuk menghentikan taksi yang dikemudikan Yusnan (45). Dia seorang muda dengan pakaian laiknya perempuan malam: jins ketat, kaos ketat memperlihatkan udel yang ditindik, rambut dicat pirang dibiarkan tergerai, lipstik coklat tua berpadu selaras dengan kulitnya yang putih. “Ke Hotel Menteng, Bang,” pinta perempuan yang kemudian mengaku bernama Cindy itu.

Dengan semangat yang terpompa, Yusnan memacu kendaraan di jalan Jakarta yang licin dan mulai lengang. Yusnan, yang dasarnya memang ramah ke setiap orang, mulai bertanya ini-itu kepada penumpangnya itu. Yusnan tahu, Cindy sedang terlibat janji dengan seorang teman laki-lakinya. “Mungkin sudah dibooking,” duga Yusnan. Obrolan pun sampai pada berapa tarif Cindy semalam, yang dijawab “Tergantung”. Tergantung pada apakah mereka bercinta dengan sedikit dasar suka sama suka. Cindy malah rela tak dibayar, asal–tentu saja–segala keperluannya untuk berkeliaran malam hari terpenuhi: makan, nonton, beli celana, sepatu, lipstik, dll.

Mereka pun sampai ke Hotel Menteng. Cindy memijit sebuah nomor melalui telepon selularnya. Lama panggilan itu tak berjawab. Cindy mulai gelisah setelah beberapa kali panggilan teleponnya tak menuai jawaban dari seberang. Ia pun minta Yusnan menunggunya hingga didapat kepastian si teman laki-laki itu muncul dan memenuhi janjinya tadi sore. Tapi, hingga beberapa lama teman laki-laki itu tak datang juga. Cindy memutuskan untuk pergi ke Rawasari, Jakarta Timur. “Siapa tahu dia di sana,” begitu pikirnya.

Tapi, di Rawasari pun si teman tak terlihat lempang jidatnya. Cindy memutar haluan ke Kafe Bintang di kawasan Blok M. Ia turun di sana dan bertanya ke bartender yang sudah dikenalnya. Cindy belum bayar taksi dan meminta Yusnan menunggunya. Angka yang tertera di argo taksi sudah menunjuk angka Rp 50 ribu. Yusnan pun terpaksa menunggu.

Cindy keluar kafe dengan muka ditekuk. Si teman, katanya, tak juga ada di sana. Cindy makin terlihat bingung. Ia hanya memijit-mijit nomor yang terus tak berjawab. “Ya, tapi bagaimana ongkos taksinya,” kata Yusnan. Cindy minta agar Yusnan ikut bersabar. Lama ditunggu Cindy mengaku juga. Katanya, dia tak punya uang untuk membayar taksi. Rencananya, jika ketemu si teman itu, Cindy akan minta dibayar ongkos taksi. Yusnan pun hanya menghela nafas. “Tapi, bagaimana dengan ongkos taksi saya?”

Cindy malah menuliskan nomor teleponnya. “Abang telepon nomor saya, nanti kalau sudah punya uang saya bayar,” katanya. Yusnan tak bisa terima. “Bagaimana saya tahu itu nomor mbak, handphonenya saja saya pegang” tukasnya. Cindy menolak. Lama kedunya mencari jalan agar ongkos taksi itu bisa terbayar. Akhirnya, Cindy menawarkan tubuhnya untuk membayar ongkos yang membuat Yusnan terlonjak dari tempat duduknya. “Lama saya berpikir untuk tawaran itu,” katanya.

Pikir Yusnan, Cindy memang molek. Ia sendiri sudah tiga minggu tak pulang ke Pekalongan menjenguk istri dan tiga anaknya. Hasrat menyalurkan kelaki-lakiannya pun timbul. Ia hampir saja menerima tawaran Cindy, ketika suatu pikiran tiba-tiba melintas di benaknya. “Hidup saya di dunia sudah susah. Saya tidak ingin hidup saya kelak tambah susah,” katanya. Yusnan pun memilih pikiran yang kedua: ia menolak tawaran Cindy. “Sudahlah, Mbak. Kalau memang tak punya uang biar saja, mungkin ini rezeki saya,” katanya. Yusnan pun menurunkan Cindy di pintu keluar terminal Blok M.

Sambil memacu taksinya menuju pool Blue Bird sekaligus tempat tinggalnya di Kramat Jati, Yusnan tak habis pikir dengan kelakuan Cindy. Itu pengalaman pertamanya sejak memegang stir taksi tujuh tahun silam. Tapi belakangan ia menemukan banyak perempuan malam serupa yang gagal bertemu dengan laki-laki yang sudah berjanji mengencaninya. Di depan Hotel Sahid, kata Yusnan ketika saya menumpang di taksinya akhir pekan lalu, banyak perempuan malam yang menitipkan kartu nama untuk diberikan kepada penumpang yang kesepian.

Tapi Yusnan membuang kartu-kartu itu. “Ah, itu sih uang lendir istilahnya,” katanya, “rejeki saya bukan dari situ. Iya gak, Bang?” Padahal, kata Yusnan yang selalu menyebutkan frase ‘Iya gak, Bang’ di setiap ujung kalimatnya, jika ia mau setiap perempuan malam itu menjanjikan tips Rp 100 ribu untuk setiap lelaki yang dibawanya. “Bisa saja saya lakukan, banyak penumpang yang suka nanya perempuan yang bisa diajak kencan,” katanya. Yusnan mengaku tak kapok jika kelak ditumpangi pelacur cekak seperti Cindy lagi.

WAJAH

Facebook
Twitter
Visit Us
LinkedIn
RSS
Follow by Email

PADA dasarnya setiap orang adalah narsistis. Ini kesimpulan para peneliti di tayangan Discovery Channel. Puluhan tahun para peneliti itu mengamati bentuk wajah seseorang dengan pasangannya. Hasilnya, para responden cenderung memilih pasangan yang wajahnya selaras: ada kemiripan tertentu antara sepasang wajah yang berjodoh. Variasi-variasi wajah (atau tubuh?) yang menghasilkan keunikan itu juga menjadi daya tarik setiap orang.

Majalah Cosmopolitan baru-baru ini membuat polling tentang tubuh yang sempurna. Tubuh yang sempurna itu, begitu hasilnya, ketika seseorang punya wajah seperti Chaterine Zetta-Jones, bokong seperti Jennifer Lopez, betis seperti punya Rene Russo, dan punya dada laiknya Pamela Anderson. Meski jika digabung-gabungkan, manusia yang seperti itu mirip barbie yang gagal dicetak.

Kesimpulan peneliti di tayangan Discovery itu menyebutkan bahwa setiap orang akan menyukai atau cenderung respek pada wajah yang mempunyai keunikan menurut pandangannya, di mana keunikan itu juga terdapat di wajahnya sendiri. Itu pula kenapa lahir pameo bahwa cantik itu relatif. “Yang absolut itu yang tidak cantik,” kata seorang kawan, meski, menurut saya, tidak cantik juga masih relatif. Karena ia sendiri jatuh cinta pada pacarnya karena jempol jari kanan si cewek yang mirip kunyit.

Setiap bayi yang lahir, kata para peneliti, ketika ia mulai tahu dunia luar, yang dikenali pertama-tama adalah wajahnya sendiri, melalui ibu, bapak, adik, kakak, dan anggota keluarga yang lain. Bayangan tentang wajah-wajah itu terekam kuat dalam memori si bayi. Memori itu akan terus menghantuinya sepanjang ia hidup, sampai ketika ia memilih pasangan. Hal-hal lain dari faktor lingkungan akan mempengaruhi pilihan seseorang pada wajah seseorang yang lain. Tapi, ini bukan yang utama. Yang utama, ya itu tadi, bayangan tentang wajahnya sendiri.

Maka, Narcissus menolak cinta Dewi Gema yang amat menggilai ketampanan putra Dewa Sungai ini. Narcissus amat kagum dengan wajahnya sendiri yang terpantul lewat air sungai ketika ia membungkuk hendak minum. Setiap sore, ia kunjungi sungai itu hanya untuk melihat bayangan wajahnya sendiri. Anak Leiriope ini menaburkan bunga yang kelak diberi nama yang sama dengan namanya. Kita tahu, dalam mitologi Yunani yang terkenal itu, Narcissus mati di tepi sungai dengan gejolak kagum pada wajahnya sendiri.

Kita juga kagum pada Tuhan, juga manusia. Dia menciptakan lima miliar manusia yang kini masih nongkrong di muka bumi tanpa satupun kemiripan yang identik. Bahkan untuk dua orang bahkan tujuh orang bayi kembar sekalipun. Saya pernah dengar bahwa setiap kita punya tujuh orang kembaran yang mirip di bumi. Hanya saja setiap kita tidak tahu di mana tujuh “kita” itu. Tapi, kenapa cuma tujuh?

Dan menjadi narsistis bukan monopoli manusia. Burung dan hewan lain juga punya perilaku serupa. Selain meneliti ribuan manusia, para peneliti yang gagal diingat nama universitasnya di Amerika itu, juga meneliti ratusan burung. Di kaki setiap burung dilingkarkan cincin dengan pelbagai warna. Setiap burung punya variasi warna gelang yang berbeda-beda. Hasilnya, burung jantan yang punya gelang hijau cenderung akan kawin dengan burung betina yang juga punya gelang hijau, meski ada juga burung yang punya gelang biru berupaya mendekati burung dengan gelang merah. Tapi, burung gelang biru harus melewati fase menunggu dan perjuangan yang susah sungguh sebelum akhirnya bisa menaklukkan burung gelang merah.

Para peneliti itu tak menghubungkan perilaku narsistik dengan kisah kelahiran Adam dan Hawa yang ada di semua kitab agama-agama. Hawa, kata kitab agama yang kita percayai, diciptakan dari tulang rusuk kiri Adam. Kata Zainuddin MZ, itu pula kenapa perempuan bersifat seperti tulang iga. “Bentuknya bengkok. Kalau dilurusin patah, dibiarin ya terus bengkok,” kata dai yang tak lagi punya sejuta umat dalam ceramahnya suatu pagi lewat radio.

Saya tidak tahu, adakah analisis ini menuai penolakan dari para feminis. Yang jelas, konon, Narcissus mengagumi wajahnya sendiri karena hidung, seperti teman saya itu yang tergila-gila pada perempuannya karena bentuk jempol.