PADA KEMATIAN KAKEK (1)

Kematian mengendap-endap. Mungkin ia sudah berdiri di pintu, tapi tak jadi mengetuk. Kulihat ia menyelinap di balik bunga-bunga di teras. Mengendap ke samping rumah. Ia menghindari temaram bohlam yang kupasang di sudut atap.

“Jemputlah, jangan ragu,” dia berbisik dengan erang nafas yang tak bisa diatur lagi. Udara tak lagi terpompa ritmis dari paru-paru yang dirobek hembusan asap tiap detik sepanjang 70 tahun hidupnya. “Jemputlah, aku sudah siap,” suaranya bergema.

Ia mungkin ragu. Aku tak bisa menangkap jelas raut apa gerangan di balik wajah kematian yang tak nampak. “Jemputlah dia. Aku akan meneruskan sisa hidupnya,” aku berbisik. Kuharap ia mendengar, agar kakekku tak menderita dengan keraguannya.

  •  
    37
    Shares
  • 37
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

LAKI-LAKI PENUNGGU MALAM

 

Laki-laki penunggu malam, kapan kau berbaring, tidur untuk tubuhmu?

Saya selalu ingin mengatakan kalimat itu tiap kali berpapasan dengan laki-laki penunggu malam, yang duduk di sebuah simpang jalan dengan rutinitas yang absurd. Dia duduk di bangku satu kaki yang camping sandarannya. Membuka kancing baju bagian atas lalu mengayunkan robekan kardus bekas untuk mengundang angin. Adakah angin malam yang membuat kau selalu merindu?

Dia muncul tiap kali malam mulai menjelang, yaitu sekitar pukul 21.00. Tiba-tiba saja. Tak pernah diketahui dari mana ia datang. Dekat pos ronda, yang kosong ditinggalkan para penjudi seceng, dia selalu duduk dengan raut yang tak pernah bisa kutebak. Temaram lampu dari sudut pagar rumah di depannya tak mampu menyiram dan mengabarkan sesuatu di balik wajah laki-laki penunggu malam.

Dia selalu menghadap ke Barat. Punggungnya yang ringkih sedikit saja disandarkan pada sisa sandaran kursi yang camping itu. Sementara dua kakinya, yang terbungkus sepatu karet hitam, dibuka agak lebar untuk menahan tubuhnya agar tak goyah. Tangan kanannya, bergantian dengan tangan kiri, mengayunkan sobekan kardus tak henti-henti.

Dia agak gemuk. Rambut yang mulai rontok tapi masih hitam di usia yang kutebak tak lebih dari 40 tahun itu. Hidungnya bulat. Di keningnya, raut-raut ketuaan tak bisa disembunyikan di balik wajah tanpa ekspresi itu. Pipinya agak tembem, sehingga kerut di kedua sisi hidungnya membentuk lipatan simetris hingga ke ujung bibir. Perutnya juga membuncit.

Saya pernah lihat dia berjalan. Kakinya tampak berat melangkah, sehingga ayunan langkahnya membuat tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Lalu duduk lagi, mengayunkan sobekan kardus itu lagi. Mengundang angin Jakarta yang langka digerus polusi dan udara yang menipis. Laki-laki penunggu malam, dia tahu batas malam dan pagi, juga ketepatan gerah udara.

ARUNG*

Aku tak bisa lagi melihat dunia di depanku. Segalanya pekat. Dunia yang terlalu besar. Frekuensi retinaku tak menangkap bayangan apa gerangan yang melintas tiba-tiba. Mungkin Tuhan. Seperti yang dilukiskan guru sekolahku ketika kecil.

Ia mengajarkan bagaimana melihat Tuhan dengan mata terbuka. “Tutupkan telapak tanganmu ke matamu. Kau akan melihat Tuhan di sana,” guru berkata. Tapi aku tak melihat Tuhan. “Tapi kau tak akan tahu Tuhan,” begitulah. Suara itu datang dari masa lalu. Terngiang kembali seperti gema yang datang pelan-pelan. “Tapi kau tak akan tahu Tuhan.”

Tapi itu cinta, guruku. Suara yang selalu datang kembali, bukankah, itu cinta? Kau menuliskan itu dalam buku harianku yang kupelihara baik-baik. Dan baiklah. Dengan salut yang tak pernah habis, aku mengenang bahwa Tuhan mungkin cinta yang selalu datang tiba-tiba. Seperti Drestrasta yang kehilangan biji matanya oleh sebuah takdir yang ia ciptakan sendiri. Tapi maaf, aku sedang keluar sebentar, Tuhan.

Kau mengajarkan, guruku, peliharalah cinta yang datang tiba-tiba. “Tapi aku selalu mendapatkan cinta yang datang tiba-tiba. Tuhankah itu?” Kadang juga salah waktu. Ia tak datang memberi kabar. Ia pulang tanpa pamitan. Memercikan rona-rona keemasan dalam pikiran yang selamanya tak pernah ajeg. Aku menikmatinya sebagai sebuah percintaan yang, aku pikir, tak akan habis-habis.

Kadang juga ia memaksa aku merindu pada setiap subuh, pada setiap gerimis yang turun dengan ritmis. Seperti kematian seorang penyair pada suatu siang. Tahukah kau apa yang terjadi ketika penyair itu meninggal? Tak ada angin. Suara hilang. Kata-kata seperti jeda antara bunyi lonceng gereja, antara paragraf-paragraf yang tak pernah terisi oleh suatu makna sekalipun. Bukankah makna seperti ular yang melingkar dalam setiap huruf? Ketika penyair itu meninggal, puisi bukan lagi sajak yang berjarak. Dan aku mengangeni setiap percintaan yang lengang.

Kini, aku terus mengangeni moment seperti itu. Tapi, seperti Godot, ia tak datang ketika ditunggu. Dan ketika datangpun, aku tahu, itu bukan Godot yang sebenarnya. Karena Godot tak pernah datang, bukan? Beckett yang cerdas sekalipun akan membanting petnya jika tahu Godot itu datang. Aku kangen percintaan yang lengang. Tapi, kapankah ada lagi penyair yang meninggal pada suatu siang?

Percintaan yang sanggup mengabaikan sebuah bentuk. Tidak seperti Machiavelli yang menggilainya. Orgasme yang bertubi-tubi bukan lagi statistik kepuasan birahi yang aku rasakan ketika menjelangnya. Renjana yang tumpah bukan lagi seloka untuk melukiskan betapa aku kelelahan menghantamkan batang zakarku ke dalam labirin vagina yang abadi. Karena orgasmeku adalah metamorfosis setiap tubuh dalam diriku. Aku selalu berubah tiap kali keinginan itu membuncah.

Kau tak bisa merasakan, guru, betapa aku tersiksa sekaligus menikmatinya ketika aku ingin Tuhan. Pelajaranmu berharga, memang, tapi tak sanggup menjawab setiap percintaan yang aku inginkan. Aku sedih mengatakan ini. Kuharap kau tak lupa bahwa sedih adalah tali persembahan baktiku. Aku menghormatimu lebih dari cinta yang dimiliki Rahwana atas tubuh Shinta. Tak ada seorangpun yang sanggup mengulur kain kemben yang melilit tubuh itu. Tak seorang pun.

Kau mungkin salah. Tapi salah juga berharga pada benar yang diyakini manusia. Ketika Pandawa, yang kalah berdadu, mempersembahkan setiap tubuh yang berarti bagi hidup Kurawa, penyamaran adalah sebuah kebenaran yang tak bertampik. Apa jadinya jika Drupadi mengaku bahwa ia istri seorang Arjuna? Rahwana, aku yakin, tak akan semerah itu warna muka aslinya. Dan dunia, yang tak bisa kulihat ini, mungkin tak berwarna seperti kita saksikan kini.

Aku kini bisa menampik setiap dirimu. Bahwa Tuhan yang aku inginkan adalah Tuhan yang bisa menari. Bukan Tuhan yang hanya diam ketika gamelan mengalun dan ronggeng mulai membuka kebayanya. “Aku menampik Tuhanmu.” Tuhanku bukan lagi bayangan yang melintas tiba-tiba, ketika aku tak lagi bisa melihat dunia yang tak berjarak.

Sekali waktu aku pernah merasakan ia datang melalui jendela yang terbuka. Sebuah bayangan yang tak berdefinisi. Menyapaku dengan sambutan dewa-dewa ketika diturunkan ke bumi. Aku terkesiap. Aku hampir saja menyakini bahwa ia telah datang pada saat yang tak terlalu tepat. Bayangkan, tak ada gairah yang muncul tiba-tiba. Tak ada gelora sperma yang melonjak-lonjak. Aku hanya ternganga. Dan berpikir bahwa ini bukan Tuhan yang sebenarnya. Aku benar, ternyata, dia tak datang lagi ketika aku tunggu. Dia tidak seperti gema.

Padahal aku telah menyiapkan sebuah ruang untuk bercinta sepuasnya. Dia tak datang. Sayang. Aku hendak menguji seberapa jauh setiaku menerima gema yang merambat pelan-pelan melalui jendela. Menyelusup lewat pori-pori kusen jendelaku, lewat sel-sel kayu yang bersilangan memanjang. Lantas merayap melalui pori dan urat nadiku. Menegangkan setiap syaraf dalam seluruh pembuluh darahku. Hingga aku orgasme yang tak terkatakan. Tapi, sayang, dia tak datang.

Aku kembali berharap, suatu ketika datang sebuah gema yang mengabarkan dia akan datang. Tapi tak. Dia datang selalu di luar rencana setiap pengharap yang setia. Aku kembali menghadapi dunia yang punya emisifitas lebih sari satu. Fisika tak bisa menjangkau warna yang melebihi setiap angka ketetapan, di luar rumus-rumus yang tak berhingga. Guru, aku mengarung mencari Dia.

*) dari cuplikan kisah yang lebih luas