GOSIP

Twitter
Visit Us
Follow Me
LinkedIn
Share
RSS
Follow by Email

Masyarakat kita sebetulnya akrab dengan hoax. Tapi gosip menghibur.

Di kampung, hampir setiap orang tak punya privasi. Apa yang disebut rahasia pribadi masuk ke setiap beranda rumah para tetangga, menjadi gosip. Setiap orang tak bisa menyembunyikan sesuatu, bahkan aib sekalipun.

Orang kampung selalu punya cara untuk tahu apa yang sedang dialami, sedang terjadi, pada hidup orang kampung lainnya. Atau gosip itu memang datang sendiri. Tapi, ini terjadi sebuah wilayah yang masih rimbun oleh pohon bambu, ada jerit anak-anak main petak umpet, dan para orang tua bergerombol di beranda sambil melihat bulan.

Gosip, karena itu, merebak lebih ganas dibanding tayangan hiburan (karena info pada istilah infotainment bisa bukan berarti apa yang kita perlukan, yang menonjol hanya tainmentnya saja). Jangan harap bisa menyembunyikan kehamilan anak perawan. Jangan coba menutupi sedang bertengkar dengan adik atau kakak karena berebut warisan. Hal-hal pribadi, yang terjadi dengan keluarga kita, pasti akan diketahui juga oleh tetangga yang lain.

Seorang tetangga akan mengabarkan gosip itu saat bercengkerama di beranda sehabis pulang dari sawah. Tapi gosip di kampung tak sampai membunuh karakter seseorang. Apa yang disebut character assasination (betapa menggelembungnya istilah ini) tak berlaku di kampung-kampung. Seseorang yang kena gosip tak sedap masih diterima bergaul dengan tetangga yang lain, bahkan mendapat sambutan yang manis.

Barangkali karena gosip di sana berkeliaran dari beranda ke beranda saja. Tak dicetak, tak bisa dikliping, seperti di kota–sebuah “peradaban” lain yang sering dianggap modern. Para penerima gosip tak punya “bukti” jika ingin menuding langsung di depan orangnya. Toh, hukum sosial tetap berlaku juga. Dengan malu, dengan isolasi sehari-hari.

Tapi kenyataan itu kini berbalik. Di wilayah yang orangnya membaca gosip, bukan mendengar, bukti saja tak lagi cukup memberikan sanksi. Seorang penzina dan maling nasional bahkan dikasihani dan digemari. Tandatangannya laku dan orang berebut minta foto. Ah, zaman memang, mungkin, menghendaki demikian.

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enjoy this blog? Please spread the word :)