Cara Menangkal Hoax

  • 26
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    26
    Shares

Bagaimana menangkal hoax di zaman ketika informasi apa pun mudah disebarkan?



JIKA kita masukkan frase “cara menangkal hoax” ke dalam kotak pencari Google, akan muncul 116 ribu laman yang berkaitan dengan kata kunci ini. Banyak sekali konten di Internet yang berisi anjuran-anjuran agar kita tak ikut menyebarkan kabar bohong.

Semua saran dan anjuran itu berujung pada satu kata: “verifikasi”. Rupanya, Rocky Gerung jarang masuk Google, sehingga ia tak paham memakai kata ini ketika berbicara soal kabar bohong. Dalam sebuah ceramah, dosen filsafat UI ini mengejek mereka yang mempertanyakan mengapa Prabowo Subianto tak memverifikasi cerita Ratna Sarumpaet ketika ia mengaku dipukuli tiga lelaki pada 2 Oktober 2018.

“Bagaimana Pak Prabowo memverifikasi, sumber
utamanya mengatakan begitu. Mau verifikasi ke mana?” katanya.

Jika Anda seorang wartawan, terlarang Anda mengikuti logika ini. Bagi Anda yang bukan wartawan sebaiknya juga tak mengamini logika ini.

Verifikasi adalah mengecek sebuah informasi kepada sumber lain yang relevan untuk mengkonfirmasi sebuah peristiwa. Sebab sebuah peristiwa pasti memiliki kronologi, waktu dan tempat, mungkin penyebab, dan para aktor. Para aktor yang terlibat dalam peristiwa itulah yang menjadi sumber-sumber verifikasi. Dalam jurnalistik, ada lima tingkatan narasumber yang harus ditanya untuk mendekati kebenaran fakta sebuah peristiwa:

1. Pelaku. Jika pelakunya sudah bicara atau pelakunya tidak ada, misalnya dalam perkelahian satu lawan satu keduanya tewas, verifikasi tetap harus dilakukan kepada narasumber nomor 2;

2. Saksi mata/dengar. Informasi dari dia atau mereka berfungsi untuk mengkonfirmasi apakah cerita pelaku tersebut sesuai dengan yang ia dengar atau lihat. Informasi keduanya juga bisa dipakai untuk saling mengoreksi. Jurnalistik meyakini setiap orang punya bias terhadap fakta yang diinformasikannya.

3. Yang tahu. Jika pelaku mati, saksi mata atau dengar juga tak ada, kita harus mencari mereka yang tahu kejadian itu. Mungkin keluarga salah satu pelaku, tentang peristiwa terakhir yang melibatkan mereka: pamitan, makan malam, dst.

4. Yang berwenang. Sebuah peristiwa yang layak ditayangkan media adalah peristiwa yang seharusnya diketahui publik. Biasanya, jika sudah punya unsur publik, “pihak yang berwenang” terlibat di dalamnya. Entah itu polisi yang menangani peristiwa kriminal, auditor yang menilai, atau penyidik KPK.

5. Pakar. Jika sumber 1-4 tidak ada karena kita mendengarnya dari bisikan angin (pasti tidak mungkin, kan?) baru ke pakar, atau ahli. Mungkin untuk analisis. Tapi, karena mereka tak terlibat, sebaiknya memakai pendapat ahli dibatasi. Sebab, dalam berita, yang utama adalah informasi, bukan pendapat atau analisis.

“Lima jenis sumber ini harus diperlakukan secara berurutan. Wartawan yang baik tak akan langsung melompat ke sumber nomor 3 atau 4, apalagi nomor 5, sebelum ia mendapatkan keterangan dari sumber 1-2. Maka, dalam cerita Ratna Sarumpaet, Prabowo Subianto seharusnya mengidentifikasi terlebih dahulu aktor-aktor yang terlibat di dalam pengakuan Ratna, sebelum percaya dan menyiarkannya kepada orang banyak.”

Bagi pembaca, pengetahuan tentang urut-urutan narasumber dalam berita ini juga penting untuk menentukan tingkat kepercayaan kita terhadap informasi tersebut. Dalam berita penganiayaan Ratna Sarumpaet, semua berita bersumber dari tim Prabowo, sumber sekunder. Jika info dari Ratna saja, sebagai sumber pada kategori “pelaku”, masih harus diverifikasi, apatah lagi dari orang lain yang hanya mendengar. Pembaca yang baik akan menimbang sebuah informasi dengan melihat narasumbernya, sebelum percaya atau tak percaya kepada beritanya.

Jika kita baca urut-urutan cerita Ratna Sarumpaet menurut orang-orang yang mendengar pengakuannya, kronologi ceritanya begini, seperti dimuat situs Kompas dan Tempo:

1. Pada 21 September 2018 malam, ia baru selesai mengikuti sebuah acara di Bandung lalu hendak pulang ke Jakarta. Dari tempat seminar ke bandara Husein Sastranegara ia naik taksi bersama pembicara lain dari Malaysia dan Srilanka.

2. Ketika turun dari taksi tiga laki-laki menyeretnya
lalu memukulinya di tempat agak gelap. Dua pembicara dari negara lain itu ternyata
lari (mungkin karena takut).

3. Setelah dipukuli, Ratna dilempar ke pinggir
jalan.

4. Sopir taksi menolongnya, tapi ia kurang
beradab. Dia menurunkan Ratna yang babak belur itu begitu saja di pinggir jalan
di Cimahi.

6. Ratna dirawat seorang dokter kenalannya di
Cimahi.

Dari kronologi ini, jelas terlihat para aktor
yang terlibat:

  1. Orang Malaysia dan Srilanka. Status: saksi mata/dengar. Seharusnya ia bisa ditelepon karena berkenalan di acara seminar itu. Karena kejadiannya sudah sepuluh hari lewat, mungkin mereka sudah pulang, tapi telepon ke luar negeri sekarang sangat mudah.
  2. Sopir taksi. Status: saksi mata/dengar. Okelah, mungkin susah melacak sopir taksi. Apalagi Ratna lupa perusahaan taksi dan nama sopirnya, kecuali dia memakai taksi aplikasi yang tercatat di teleponnya.
  3. Dokter. Status: saksi mata/dengar. Dokter yang bukan gadungan, pasti punya nomor telepon dan lokasi klinik atau tempat berpraktik. Dialah narasumber yang paling mungkin bisa dikontak untuk verifikasi: benarkah ia merawat Ratna pada 21 September 2018 dan benarkah luka-luka itu akibat pukulan benda tumpul?
  4. Kalau mau rada mengulik, cek ke petugas bandara: benarkah ada penerbangan malam dari Bandung ke Jakarta? Jika tak punya nomor teleponnya, bisa dicek ke Google dengan kata kunci “jadwal pesawat Bandung-Jakarta”.
  5. Polisi. Status: yang berwenang. Tapi rupanya polisi belum menerima laporan penganiayaan itu. Jadi, ia tak diperlukan atau hanya diperlukan untuk menegaskan penganiayaan itu belum ditangani pihak yang berwenang.

Semua cek dan ricek di atas mungkin tak sampai memakan
waktu satu jam. Setelah itu kita bisa melangkah ke tahap berikutnya: percaya
atau tidak percaya terhadap informasi tersebut.

Pada dasarnya otak manusia mudah dimanipulasi karena secara alamiah otak kita terkena banyak bias. Salah satu bias itu, seperti kata Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow, adalah sindrom WYSIATI—what you see is all there is. Ini bias lumrah dalam pikiran manusia, yakni mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia.

Jika informasinya lumayan komplit, kesimpulan dan keputusan serta tindakan kita mungkin tak terlalu keliru. Yang celaka adalah jika informasi atas fakta yang kita hadapi itu sangat sedikit. Bias WYSIATI berkait dengan kebiasaan kita pada jumping to conclusion dan bias konfirmasi—kita percaya/tak percaya karena informasi tersebut kita suka/tak suka. Kita percaya begitu saja sebuah informasi karena kita suka mendengarnya. Sebaliknya kita jadi ragu karena tak ingin mendengarnya atau tak suka pada pembawa beritanya.

Bias WYSIATI bisa dikurangi dengan latihan. Para pialang saham di bursa, terlatih memutuskan beli atau lepas saham dengan informasi yang selintas dan sedikit. Mereka terlatih memutuskan dalam waktu cepat karena setiap menit membuat keputusan seperti itu tiap hari. Tapi, menurut Kahneman, ini pun tetap bias. Namanya “expert biases” atau bias ahli. Hanya karena dia sudah paham akibat melakukannya berulang-ulang maka ia membuat keputusan tanpa mencari informasi tambahan, lalu merasa tak ada yang keliru. Mereka yang sadar akan potensi bias ini akan menyisakan ruang, “apa yang tidak saya tahu?”

Seorang staf HRD bisa tahu seorang calon karyawan akan berdedikasi atau tidak setelah bekerja dalam 5 menit wawancara. Ia terlatih mengenali calon karyawan dari gaya dan cara berbicara, lirikan mata, gestur, dst. Apakah pasti ia benar? Belum tentu. Kahneman malah menganjurkan kita mesti lebih percaya algoritma ketimbang intuisi manusia. Sebab, algoritma lebih presisi karena ia tak punya bias otak mamalia.

“Bias-bias itu alamiah pada manusia. Tapi karena kita adalah mamalia yang berpikir, salah satu cara mengurangi dan melawan bias itu adalah skeptis dan curious. Dua sikap ini adalah alat utama dalam verifikasi.”

Demikianlah jika kita mau andil tak ikut menyebarkan dan menyuburkan hoax di zaman ketika informasi mudah diproduksi dan disebarkan…

Sumber gambar: Responsejournal.net

BAGIKAN
0
  •  
    26
    Shares
  • 26
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *