Warung Kopi di Washington

Twitter
Visit Us
Follow Me
LinkedIn
Share
RSS
Follow by Email

Kafe kopi di Washington buka sangat pagi, tutup masih siang. Ada hubungannya dengan kebiasaan tidur.

DI Washington, D.C, warung kopi tutup pukul 17.30. Saya kecele ketika pulang dari suatu acara hendak ngopi sore-sore di kedai kopi di dekat Gedung Putih. Sewaktu melewati kafe itu pagi sebelumnya, kedai itu terlihat asyik buat ngopi. Ada kursi-meja mini di terasnya. Jika mau beringsut, di ujung blok ada taman Farragut yang dipenuhi orang-orang membaca dan berjemur. Udara Mei mulai panas di negara subtropis Amerika.

Penjaga kedai kopi itu, seorang perempuan kulit hitam, tersenyum ketika saya coba membuka pintu yang sudah dikunci. Dia menunjuk tanda lampu di belakangnya. Terpacak di sana waktu tutup kedai 16.30. Jadi, bahkan untuk terlambat pun, saya telat satu jam. Saya melengos dan bertanya-tanya, mengapa kedai kopi tutup sesiang itu. Rupanya, itu pikiran khas orang Indonesia, yang terbiasa melihat kedai kopi buka hingga larut malam.

Di Amerika, negara bukan penghasil kopi tapi hampir semua orang dewasanya ngopi sebelum berangkat kerja, kedai-kedai kopi buka sebelum hari terang tanah. Pukul 6.30, kedai-kedai kopi sudah buka karena akan diserbu para pekerja yang sudah memenuhi trotoar pukul 7. Mereka harus ngopi sebelum membuka pintu kantor.

Di Indonesia, kedai kopi baru buka pukul 9 atau 10, sementara jam kantor pukul 7.30. Kita akan membeli kopi pada siang atau sore atau bahkan malam. Negeri penghasil kopi ini tak punya tradisi ngopi pagi-pagi. Orang-orangnya tak memiliki kebiasaan memompa adrenalin dengan kafein agar fokus dalam kerja. Kita terbiasa sarapan dengan karbohidrat melalui bubur ayam atau nasi uduk.

Kopi di Amerika itu mungkin kopi dari Indonesia. Badan Pusat Statistik melaporkan Amerika merupakan negara penerima kopi terbanyak dari Indonesia. Sebanyak 40 persen kopi kita masuk ke sana. Ekspor kopi kita ke banyak negara naik 35,71 persen pada 2022. Nilainya US$ 1,4 miliar atau Rp 21,7 triliun dengan volume 433.780 ton.

Kopi Indonesia itu telah menjadi pemompa semangat kapitalisme Amerika dan Eropa. Di trotoar Washington, D.C, atau di perkantoran, tak ada orang yang tak menenteng muk kopi ketika pagi. Konsumsi kopi orang Amerika rata-rata 4,3 kilogram per tahun. Maka jika kini penduduk dewasa Amerika sebanyak 86 juta, dan 65 persen mereka minum kopi, ada 370 juta kilogram kopi dikonsumsi orang di sana.

Karena lama kerja sehari di Amerika delapan jam, kedai-kedai kopi kecil yang buka pukul 6.30 umumnya tutup pukul 14 atau 15. Sebab jam kantor juga akan selesai pada pukul 16. Pada pukul 20, Washington, D.C yang besar sudah sepi. Supermarket tutup sejam kemudian.

Orang-orang pun kembali ke rumah, ke apartemen. Mungkin tidur untuk menyiapkan diri bekerja esok pagi. Sementara di Indonesia, pukul 19 orang baru mulai masuk kedai kopi. Kita membuat janji bertemu teman di kafe selepas kerja pukul 16. Karena menunggu macet reda, janji bertemu geser ke selepas Isya. Itu kenapa polisi membatasi kendaraan bermotor di jalan-jalan protokol untuk mencegah macet melalui nomor polisi ganjil-genap hingga pukul 21. Kita pun baru pulang pukul 22, sampai rumah pukul 00. Orang kota di Indonesia tidur hanya 4-5 jam sehari.

Memikirkan kopi dan kebiasaan sehari-hari itu membuat saya jadi ingat Matthew Walker yang menulis buku bagus berjudul Why We Sleep. Para ahli menganjurkan agar kita menghindari minum kopi delapan jam sebelum waktu tidur. Jika Anda terbiasa tidur pukul 22, Anda harus stop minum kopi sebelum jam 4. Kopi memicu adrenalin sehingga membuat kita melek. Jika tidur pun tidur akan tak nyenyak. Itu kenapa di Amerika tak ada orang minum kopi sore atau malam.

Menurut Matthew Walker, tidur ideal manusia dewasa adalah delapan jam. Ingatan akan mentransfer pengalaman dengan sempurna ke dalam memori selama waktu itu. Organ tubuh beristirahat dengan cukup. Sel-sel juga beregenerasi dengan pas sepanjang delapan jam itu.

Selama 20 tahun, dosen ilmu syaraf dan psikolog di Universitas Berkeley California itu, meneliti kebiasaan tidur manusia modern. Penemuan lampu dan listrik, menurut Walker, telah merampas waktu tidur manusia modern dan membuat kita berubah memandang waktu.

Lampu membuat malam tetap terang. Akibatnya, waktu tidur manusia modern lebih pendek dibanding manusia purba yang terlelap rata-rata 7,6 jam sehari. Akibatnya, usia harapan hidup manusia kini lebih pendek dibanding manusia lalu. Sebab, ada banyak risiko akibat kurang tidur. Walker meneliti orang yang tidur 4, 6, dan 8 jam. Ia menyimpulkan, orang yang tidur 4 jam punya peluang kecelakaan lalu lintas 60 persen lebih tinggi dibanding mereka yang tidur 8 jam. Kerusakan otak orang yang tidur 4 jam sama dengan kerusakan otak pecandu alkohol.

Walker meneliti lebih jauh pengaruh kurang tidur terhadap ekonomi. Pemerintah Inggris kehilangan 26 miliar paun setahun atau setara 2 persen PDB akibat penduduknya suka begadang. Pengeluaran negara untuk pengobatan penyakit akibat kurang tidur naik dan produktivitas penduduknya menurun. Jadi, ekonomi yang hidup akibat begadang tak sebanding dengan ongkos menangani dampak buruknya.

Maka, di Jakarta, kombinasinya lebih maut: kita menunggu atau mengarungi macet pada sore hingga malam. Jika menunggu macet reda kita melipir ke kafe untuk minum kopi. Penduduk Indonesia pun umumnya tidur 4-6 jam sehari. Apa dampaknya terhadap ekonomi dan ongkos kesehatan? Belum ada yang mengukurnya.

Terbit pertama kali di Marginalia majalah Tempo.

Author: Bagja Hidayat

Wartawan majalah Tempo sejak 2001. Mendirikan blog ini pada 2002, karena menulis seperti naik sepeda: tak perlu bakat melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.

One thought on “Warung Kopi di Washington”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Enjoy this blog? Please spread the word :)