JAKARTA KAFE

 

 

Jakarta, dalam cerita-cerita ini, adalah ceruk yang tenang tapi gersang, berisik tapi sunyi, gemerlap tapi muram. Jakarta seperti musik jazz: serba ada dan menawarkan segala macam kemungkinan.

Paradoks-paradoks itu bisa hadir sendiri-sendiri, tumpang tindih, atau rombongan sekaligus sehingga sulit menyebut apa warna Jakarta sesungguhnya. Sebutlah sesuatu, itulah Jakarta.

Tatyana–ini debut bukunya–menghadirkan Jakarta tak hanya sekadar lanskap. Jakarta hadir lewat perbincangan, keluh kesah, monolog atau lamunan. Karena itu buku ini tak bisa dijadikan panduan untuk jalan-jalan di Sudirman atau menyusuri macetnya jalan-jalan alternatif. Jakarta hanya “terlihat dari depan pintu kafe”.

Ada banyak soal yang pasti mendekam di ini kota: salah urus, terlalu besar, dan seterusnya. Tapi percayalah, masuk Jakarta lewat pintu ini akan menjadikan cerita berhenti sebatas sketsa. Bukan kisah yang bisa menghadirkan tokoh yang punya seribu-satu soal namun tak kunjung bisa mereka pahami. Ini seperti menabalkan adagium “kota sebuah lanskap yang asing” dari Raymond Williams.

Asing bahkan dengan diri sendiri. Orang-orang bisa disebut dengan nama apa saja atau bahkan tak bernama. Tapi mereka adalah kita, ada di sekitar kita: perempuan yang sendiri, cinta tak sampai yang membingungkan, jengkel karena macet, cemburu pada istri teman, jatuh cinta pada bapak beranak tiga yang punya istri setia, main mata dengan tetangga.

Kejadian bisa pula terjadi di luar Jakarta, atau mana pun. Kerisauan Joshua Karabish atau kesumpekan Ny Elberhart, dalam Orang-orang Blooomington, juga bisa menimpa kita meski mereka tinggal di jauh benua. Geografis tak membuat persoalan dasar manusia jadi berbeda.

Dan kisah yang berkesan, ternyata, tak perlu datang dari gagasan besar, imajinasi aneh-aneh. Kisah-kisah datang lewat email, sandek, sebuah janji, taman yang kotor, metromini yang sumpek. Sepele. Tapi perajin yang baik akan memulas bonggol tak berguna menjadi patung yang dahsyat. Tergantung bagaimana keunikan dibentuk dengan jalinan yang bernas. Jakarta Kafe telah melakukannya.

ANAK KRISTUS

 

 

Sudah tentu ini akan diprotes. Di Libanon, pusat Katolik di sana menyerukan mencabut peredaran novel ini. Tapi ditentang serikat penerbit: “Salman Rushdie diburu, tapi Islam tetap ada. Dan jika Dan Brown juga diburu, Kristen tak akan punah.” Itu kalimat Ahmed Fadlalla Assi. Dan Brown sudah menikmati 7,5 juta eksemplar novelnya di seluruh dunia.

Tapi memang mengejutkan. Melalui Da Vinci Code, Brown mengubrak-abrik kepercayaan Kristen dalam Perjanjian Baru. Menurut Brown, Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena dan melahirkan anak perempuan bernama Sarah ketika Ia menahan sakit di bukit Golgota. Si anak ini kemudian juga beranak dan bercucu hingga melahirkan kelompok Priory of Sion. Sejak sepuluh abad lalu, kelompok ini bertahan dengan sembunyi karena menghindari amuk gereja.

Anggotanya para pangeran Inggris dan pesohor dunia: Leonardo da Vinci, Sir Isaac Newton, Victor Hugo…dan terakhir Jacques Sauniere, kurator di Museum Louvre, Paris. Kelompok ini terus menyiarkan keyakinan bahwa Maria Magdalena bukan pelacur seperti yang diwartakan Gereja. Kampanye negatif karena Maria diberi hak oleh Yesus untuk mendirikan Gereja. Maria adalah keturunan Keluarga Benjamin, seorang bangsawan. Brown lalu mengutip Kitab Matthew, Yesus adalah anak keturunan Raja Daud-Sulaiman. Jika dua orang ini bergabung akan membentuk sebuah kekuatan politis yang dahsyat dan berpotensi menggeser tahta raja-raja sesudah Sulaiman. Bukti lain lagi,Yesus orang Yahudi. Pada jaman itu, seorang yang tak menikah akan dikutuk.

Novel ini semakin menarik karena selapis-demi-selapis mulai menyingkap kode-kode rahasia yang disebar Sauinere yang dibunuh oleh rahib alibino, Silas–anggota kelompok Katolik koservatif: Ovus Dei. Robert Langdon, ahli simbol dari Harvard, dan Sophie Neveu, kriptolog di kepolisian Paris, adalah dua orang yang berkutat memecahkan kode itu sambil was-was karena dikejar oleh polisi pengadilan Paris. Polisi menuding Langdon adalah pembunuh Sauinerre, karena namanya ada dalam kode di samping mayat Sauinerre.

Perburuan kode itu dimulai dari menyingkap rahasia lukisan Da Vinci, Madonna of the Rocks, tempat menyembunyikan batu pengunci yang akan membimbing mereka ke Holy Grail, rahasia besar tentang keturunan Yesus yang berabad-abad disembunyikan. Selama petualangan dua hari-semalam itu, keduanya menemukan kaitan, teka-teki, anagram, dan kode-kode yang disebar Da Vinci dalam lukisan-lukisannya yang terkenal ke dalam sejarah Kristus. Dalam Mona Lisa, misalnya, tak hanya sifat androgini yang ditemukan melalui wajah misterius itu, tapi garis-garis dan cat blur itu menyimpan kode yang menghubungkan pada komunitas Sion yang pernah ada. Da Vinci adalah Grand Master kelompok itu.

Juga lukisan The Last Supper. Jika lukisan itu diperbesar maka orang ke-13 yang tampak bukan seorang murid Yesus yang sedang memegang cawan, tapi Maria Magdalena sendiri: sang Cawan Suci yang menadahi benih Yesus, Sang Real, chalice yang misterius itu. Da Vinci melukiskan dua orang itu tampak serasi: Yesus memakai jubah hijau, warna baju Maria. Santo Peter yang dibakar cemburu berbisik sambil menyodorkan bilah tangan ke Maria. Lalu penyaliban itu tiba, Maria harus lari untuk menyelamatkan keturunannya.

Sejak itu keluarga keturunan Maria membentuk kelompok sembunyi-sembunyi. Dalam novel ini, Sophie adalah keturunan terakhir yang masih ada. Seluruh keluarganya terbunuh dalam kedok sebuah kecelakaan mobil. Ia kemudian bertemu dengan neneknya, yang sudah dinyatakan tewas dalam kecelakaan itu, di Kapel Rosslyn, Skotlandia, tempat terkuburnya dokumen Holy Grail. Brown mencurigai Disney, karena dalam kartun-kartunnya kerap menyuguhkan cerita tentang Holy Grail secara terselubung. Dan dari semua teka-teki itu pelaku utama yang berada di belakangnya adalah …ah, baca aja sendiri.

SISI GELAP DEMOKRASI

Demokrasi memang tidak bisa menjawab banyak soal. Terutama ketika ia menyerah pada kekuatan jahat yang direstui banyak orang.

Lalu kita ingat The Big Brother (oleh Landung Simatupang diterjemahkan menjadi Bung Besar) dalam novel George Orwell : 1984. Di sana yang jahat juga menjadi benar, karena diamini banyak orang, melalui partai–satu peranti dalam demokrasi. Novel gelap ini bercerita tentang hidup Winston Smith.

Continue reading “SISI GELAP DEMOKRASI”

THE NAME OF THE ROSE

THE Name of The Rose bercerita tentang sebuah pertanyaan yang menggema di sebuah biara di pinggiran Italia pada sebuah musim salju akhir November 1327: pernahkah Kristus tertawa? Aslinya, novel ini terbit dalam bahasa Italia dengan judul Il nome della rosa pada 1983.

Para rahib muda di biara itu, yang setiap hari bergulat dengan ribuan kitab di perpustakaan di antara kegiatan rutin biara, memunculkan pertanyaan itu dalam diskusi sembunyi-sembunyi.


Adalah Jorge yang menentangnya. Bagi rahib tua yang buta ini—nama dan sosoknya mengingatkan pada penulis fantasi Amerika Latin Jorge Luis Borges—Kristus  tak pernah tertawa. “Kebenaran dan kebajikan bukan untuk ditertawakan. Inilah mengapa Kristus tak pernah tertawa, tertawa menyebabkan keragu-raguan,” katanya (hal. 203).

Pertanyaan para rahib muda itu tentu saja segera memantik vonis mereka sedang melakukan kegiatan bidah. Maka Paus mengutus William dari Baskerville, seorang bruder Franciskan asal Inggris.

William datang ditemani seorang calon rahib dari Jerman, Adso, si “aku” dalam novel tebal ini. William, seorang intelek yang telah merambah pelbagai ranah ilmu pengetahuan, hidup di zaman ketika gereja dan kepausan sedang kehilangan pamor.

Ordo Franciskan berperan sebagai penentang utama Paus Yohannes XXII (1316-1334) yang menyerukan agar gereja yang bergelimang kemewahan kembali hidup miskin seperti ajaran Kristus. Sementara penentangnya berdiri para raja dan kaisar yang menginginkan kerajaan lepas dari kekuasaan Paus. Perselisihan tiga kubu itu memuncak ketika diberlakukan hukum bakar bagi para pengikut Santo Fransiskus dan siapa pun mereka yang mengecam gemerlap hidup Paus.

Di antara saling-silang sengketa itu, ada juga upaya untuk menyatukan perbedaan pendapat. Dalam novel ini, pada hari ketiga, Eco mengisahkan, kubu-kubu itu saling bertemu dan berdebat di biara megah itu meski tak mencapai kata sepakat.

William, selain bertugas mengusut bidah, adalah salah satu utusan dari kubu penentang Paus. Namun, belum juga pertemuan itu digelar, William dan Adso sudah dikejutkan oleh kematian seorang rahib yang jatuh ke dasar jurang pada hari pertama kedatangan.

Kematian Adelmo, si rahib itu, tak berdiri sendiri. Kematiannya diikuti oleh serentetan kematian rahib-rahib lainnya. William tergerak untuk menyelidiki kematian yang misterius itu.

Eco, agaknya, telah dengan cermat mempersiapkan tokoh William. Karena asal William mengingatkan kita pada sebuah cerita detektif Sherlock Holmes yang terkenal: Anjing Setan dari Baskerville.

Begitulah. William dan Adso menjelma dua orang detektif yang tangkas. Keduanya bahu-membahu menguak misteri tujuh kematian selama tujuh hari, seluruh waktu dalam novel ini. Dalam investigasinya itu, William masuk ke dalam lorong-lorong perpustakaan biara yang dihuni ribuan naskah dan kitab pada malam hari, waktu di mana peristiwa penting selalu terjadi. Ia mengumpulkan bukti, menanyai saksi, menguraikan simbol-simbol rahasia dan kode manuskrip serta menghubung-hubungkan pelbagai peristiwa di seputar kematian itu. Ia mengurai sengkarut misteri itu dengan analisis logika a la Francis Bacon, tokoh yang amat dikaguminya, atau teologia Thomas Aquinas.

Dalam penelusurannya itu mereka menemukan pelbagai peristiwa haram yang dilakukan oleh para rahib di balik tembok biara. Cerita hubungan seksual sesama jenis dan rasa cemburu antar rahib.

Rahib yang lain memasukkan perempuan dari kampung sekitar biara untuk melampiaskan syahwat dan menukarnya dengan makanan. Di antara kisah-kisah manusiawi para rahib itu, Eco menguraikan sejarah Abad Tengah Eropa yang kelam oleh perselisihan gereja, politik yang ruwet, filosofi, mitologi, sihir hingga makanan dan tata cara peracikan racun dan obat dengan latar arsitektur zaman Gothik yang eksotik.

Bambang Sugiharto, pengajar filsafat di Universitas Parahiyangan, dalam pengantar edisi Indonesia menulis bahwa novel ini merupakan roman yang kompleks, enigmatik, berlapis-lapis dan menawarkan kemungkinan tafsir terbuka. “Ia bisa dibaca sebagai cerita detektif, cerita sejarah, eksperimentasi teks, parodi petualangan filosofis yang mencari kebenaran, atau apa saja,” tulisnya (hal. 15).

Di akhir kisah, William akhirnya mengetahui kematian para rahib itu disebabkan oleh racun yang tersebar di halaman buku dan termakan para rahib yang diterkam rasa ingin tahu saat membolak-balik naskah-naskah kuno itu.

Cemburu dan iri hati hanyalah penyebab kecil lain pada tiap kasus kematian. Pelumur racun tak lain adalah Jorge yang tak ingin seorang pun mengetahui kebenaran dalam kitab-kitab yang terhimpun dalam buku Akhir Afrika. Jorge menyimpan kitab itu dalam ruang perpustakaan terra incognita dan siapapun yang menyentuhnya akan mati.

Buku itu berisi fabel-fabel dalam bahasa Arab yang menjungkirbalikan realitas hingga mengundang gelak tawa. “Misi mereka yang mencintai kemanusiaan adalah untuk membuat manusia tertawa atas kebenaran,” kata William pada hari ketujuh saat ia berdebat dengan Jorge tentang makna tawa dan kebenaran. Perdebatan itu kemudian menyulut keributan dan Jorge melemparkan api untuk membakar seluruh naskah itu.

Api merembet dan seluruh harta biara hancur tak bersisa, termasuk Jorge. Maka dengan terbakarnya seluruh kitab di perpustakaan itu, William dan Adso gagal mempertahankan kebenaran yang tersimpan dalam buku dan kebenaran itu hanya menjadi milik mereka berdua.

Mereka pulang ke Roma dengan sehimpun kenangan menegangkan di biara itu. Zaman belum berubah, penentang gereja makin bertambah, dan Kaisar Roma telah memilih Paus tandingan: Nicholas V.

Dalam perjalanan kembali itu, William mengatakan bahwa petualangan mereka adalah mencari kebenaran. Dan inilah hakikat dari novel yang mengasyikan ini, meski agak membosankan karena dialog-dialognya yang panjang. Kebenaran bagi William harus terus menerus diragukan, dipertanyakan, untuk mencapai kebenaran yang hakiki. William tak segan membuang pelbagai hipotesisnya yang tak terbukti dan menajamkan hipotesis lain yang mendekati kebenaran sebagai ramuan kemungkinan penyebab kematian para rahib.

Eco telah dengan tepat memilih cerita detektif untuk mengantarkan pokok-pokok pikirannya. Karena seorang detektif adalah seorang yang mencari. William akan terus menerus bertanya, meramu data, meragukannya, sebelum akhirnya menemukan kebenaran yang diyakininya.

Pernahkan Kristus tertawa? William sendiri menjawab tidak. Tapi ia seorang pembawa pikiran bebas Abad Tengah yang kukuh mempertahankan bahwa humor, satir dan permainan adalah upaya sah hidup manusia. Ia seorang yang yakin manusia perlu untuk ragu pada kebenaran. Dengan terang-terangan ia menyebut Jorge sebagai Sang Iblis. “Iblis adalah arogansi rohani, iman tanpa senyum, kebenaran yang tak pernah dicengkram keraguan,” katanya (hal. 631).

Penerjemah novel ini mengakui butuh nafas panjang untuk mentransfer kalimat Eco yang berbelit dan menyimpan tanda yang tak gampang diurai. Agaknya, ia bukan orang Kristen sehingga ada terjemahan yang tak konsisten ketika Injil disebut Bibel, kali lain disebut Al Kitab.

Bagaimana pun, buku ini patut disambut karena sebelumnya novel ini sampai ke Indonesia hanya dijumpai sebatas kutipan para esais kendati dalam bahasa aslinya novel ini sudah terbit lebih dari 20 tahun lalu.

HP


Handphone, atau kalau di-Indonesia-kan jadi telepon genggam itu kini sudah jadi bagian dari identitas. Kalau Anda ditanya, “Lu, punya henpon? Ntar gua telpon,” kurang lebih maksudnya, “Henpon lu merek apa?” Dan merek, tentu saja, berhubungan dengan berapa besar penghasilan yang punya telgam itu. Juga seberapa kuat dia mengikuti mode. Lalu penghasilan berkait erat dengan status sosial.

Identitas memang rumit. Ketika pulang kampung, dulu-dulu, pertanyaan uwa, bibi, tetangga, dan handai taulan, pasti “sudah semester berapa?” “Lulusnya kapan?” Dua tahun berikutnya, uwa, bibi, paman, tetangga dan handai taulan itu kembali bertanya, “Sudah kerja belum?” Setahun kemudian, pertanyaan si uwa, si bibi, si tetangga, dan si handai taulan, menjadi, “Kapan nikah?” Ah, ya, sekarang saya sudah menikah. Mereka itu kini bertanya, “Kapan punya anak?” dst, dst, dst. “Ah, kenapa tidak nanya saja, ‘kapan meninggal?'” “Husssssssssshhhh!!!!!” Bapak menghardik.

Jika Anda bertukar kartu nama, yang dicari pertama adalah nomor telgam masing-masing orang. Setelah itu jenis pekerjaan. Maka, pertanyaan, “Bekerja di mana?” maksud sebenarnya adalah, “Berapa gaji Anda?” Karena saya wartawan, pertanyaan yang sering mampir adalah, “Di mana?” Ini ternyata pertanyaan yang lazim diterima sesama juru warta. Tempat bekerja, dalam satu soal ini, menjadi penentu seseorang disegani atau tidak. Padahal, bukan karena medianya, seseorang jadi bagus bekerja.

Dalam sebuah acara hiburan (orang jadi latah menyebutnya infotainment), seorang selebritas kebingungan memilihi tawaran kakaknya: umrah atau handphone. Umrah atau handphone! Di zaman yang ndableg seperti sekarang sesuatu yang profan jadi sulit dipilih ketika berdampingan dengan suatu yang transeden. Orang menyejajarkannya seolah-olah itu dua komoditas berbeda yang sama penting. Tapi, mungkin juga sama penting di sebuah zaman ndableg: ketika lu adalah apa yang lu punya.

Identitas ternyata ruwet. Seruwet Zahra merumuskan siapa dirinya. Dalam novel Tahar Ben Jelloun ini, siapa menjadi apa sudah tak jelas lagi. Zahra lahir sebagai perempuan yang tak diinginkan ayahnya. Maka ia dididik dan diperlakukan sebagai laki-laki. Pada umur dua tahun ia pun disunat. Agar terlihat berdarah, si bapak melukai paha si bayi. Dan Zahra pun tumbuh sebagai laki-laki.

Tapi dalam usia balig, Zahra kebingungan ketika dari dalam vaginanya merembes darah menstruasi. Tapi, pola pikir laki-lakinya menolak itu peristiwa alamiah yang dialami oleh seluruh perempuan ketika menginjak masa puber. Ia tak ambil pusing. Sejak kecil, karena didikan keras ayahnya, ia juga merentang dendam terhadap si bapak. Maka, ia kabur dari rumah dan ikut rombongan sirkus-sandiwara yang keliling dari satu kota ke kota lainnya. Dalam rombongan sirkus itu, Zahra berperan sebagai perempuan!

Mana yang lebih rumit: Zahra atau handphone? Minggu-minggu ini saya memilih handphone yang tertinggal di rumah di kampung. Satu sisi saya senang tak memegang handphone, tapi jadi ruwet karena berurusan dengan kantor. Huh!